Selebgram Dilan Janiyar turut prihatin atas musibah banjir dan longsor yang melanda Aceh. Ia tak hanya datang untuk menjenguk keluarga, tetapi juga menyalurkan bantuan senilai Rp 100 juta untuk para korban yang terdampak.
Dilan menjelaskan bahwa kunjungannya ke Aceh memiliki ikatan emosional yang kuat. “Di Aceh itu aku cuma ngasih bantuan saja sama jenguk saudaraku yang ada di Aceh juga, karena bapak ibuku orang Aceh asli. Cuma kan aku lahir besar di Yogya. Jadi aku masih ada keterikatan batin ya, apa pun yang mereka rasakan pasti aku juga merasakan, meskipun aku jauh di Jakarta ataupun di Yogya,” ujar Dilan saat ditemui di Studio Trans TV, Mampang, Jakarta Selatan, Senin (12/1/2026).
Meskipun kedua orang tuanya tidak berada di Aceh saat bencana terjadi, banyak anggota keluarga besar Dilan yang masih tinggal di sana dan merasakan dampak langsung banjir. “Orang tua gak di sana sih, cuma saudara-saudara dari orang tua kan masih banyak yang di Aceh. Kayak ikut merasakan betapa pedihnya pada saat banjir itu,” tuturnya.
Dilan menceritakan bagaimana derasnya arus banjir menyebabkan kerusakan parah pada rumah-rumah warga. Barang-barang penting, termasuk dokumen berharga seperti sertifikat rumah dan ijazah, dilaporkan hanyut terbawa air setelah lemari tempat penyimpanannya ambruk. “Kayak misalnya mereka sudah ngamanin sertifikat-sertifikat ditaruh di atas lemari, tapi karena kehantam arus, lemarinya ambruk jadi jatuh semua dan gak tahu ke mana tuh sertifikat sekolah, ijazah gitu-gitu. Rumah gak tahu deh pokoknya sudah hanyut semua,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa banjir di Aceh kali ini sangat berbahaya karena arusnya yang deras dan volume air yang besar. “Ada juga yang kegeret hampir ketancep tiang-tiang pohon. Jadi memang sebenarnya yang berbahaya dari banjir Aceh kemarin itu lebih ke arusnya. Terus debit volumenya gede, dan itu rata banget. Satu perkampungan yang dulunya perkampungan sekarang jadi kayak genangan laut, lumpur semua. Sedih, kasihan,” katanya.
Dilan bersyukur tidak ada korban meninggal dunia di lokasi yang ia kunjungi, meskipun korban luka cukup banyak ditemukan. “Kalau yang meninggal gak ada alhamdulillah. Lebih ke luka-luka itu lumayan banyak. Makanya aku bantu sebisa aku buat beli obat-obatan. Soalnya orang-orang lebih fokus ke makanan, jadi aku bantuin dari segi medication-nya,” jelasnya.
Bantuan yang disalurkan Dilan berbentuk uang tunai. Ia beralasan bahwa dana tunai lebih fleksibel dan dapat digunakan sesuai kebutuhan mendesak para korban. “Aku bentuk uang sih, karena kalau uang lebih fleksibel, bisa dijadiin apa pun yang mereka butuh,” katanya.
Menurut Dilan, para korban masih sangat membutuhkan perhatian, terutama dalam hal nutrisi dan sanitasi. Ia menekankan pentingnya asupan gizi yang baik untuk pemulihan dan pencegahan penyakit di tengah kondisi yang rentan. “Mereka butuh nutrisi yang bagus, karena di era kayak gitu benar-benar rawan sakit. Aku saja ke sana cuma dua hari, itu saja sudah langsung sakit. Hawanya berdebu, lumpurnya tebal banget,” bebernya.
Selain itu, kebutuhan akan air bersih, pakaian bersih, dan fasilitas sanitasi yang layak juga menjadi sorotan Dilan. “Nutrisinya harus bagus biar gak gampang sakit dan cepat recovery. Terus sanitasi juga, karena semuanya sudah lumpur di mana-mana. Baju bersih, toilet, air bersih, itu penting banget,” imbuhnya.
Mengenai detail lokasi pasti daerah yang dibantu, Dilan mengaku menyerahkan sepenuhnya kepada pihak setempat yang lebih memahami kondisi di lapangan. “Pokoknya aku tahunya dibantu saja ke mana, diarahin terserah. Aku memasrahkan ke orang yang penting di situ,” ujarnya.
Dilan berharap bantuan sebesar Rp 100 juta yang disalurkan dapat meringankan beban para korban. “Ya semoga bisa membantu,” pungkasnya.






