Chiki Fawzi, putri bungsu musisi senior Ikang Fawzi, batal berangkat ke Tanah Suci sebagai Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026. Keputusan ini diambil setelah Chiki menjalani serangkaian pelatihan di Asrama Haji Pondok Gede.
Pencopotan yang terkesan mendadak ini menimbulkan kesedihan mendalam bagi Chiki, mengingat impiannya menjadi pelayan tamu Allah telah ia persiapkan sejak tiga tahun lalu. Di tengah polemik mengenai alasan pembatalan tersebut, Ikang Fawzi tampil sebagai sosok yang memberikan dukungan moral terkuat bagi putrinya.
Ikang Fawzi Merasa Terusik, Dukung Kritisnya Sang Putri
Ikang Fawzi tidak menampik bahwa dirinya merasa terusik atas perlakuan yang diterima Chiki. Sebagai seorang ayah, ia menilai ada ketidakadilan dalam proses pembatalan tersebut. Namun, alih-alih meluapkan emosi, Ikang memilih pendekatan yang lebih personal dan hangat untuk merangkul buah hatinya.
“Aku sangat senang sekali mempunyai anak-anak yang kritis dan bertanggung jawab,” ujar Ikang Fawzi saat ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (15/2/2026).
Pelantun lagu ‘Preman’ itu menilai sikap kritis yang dimiliki putrinya merupakan sebuah aset berharga. Menurutnya, masa depan harus diperjuangkan oleh generasi muda yang berani bersuara, meskipun risikonya terkadang pahit, seperti yang dialami Chiki saat ini.
“Karena anak muda itu harus kritis dan bertanggung jawab, karena masa depan milik mereka. Masa depan itu enggak gratis, mereka harus merebut masa depan mereka sendiri,” tuturnya.
Meski demikian, Ikang Fawzi mengakui tetap ada rasa ketersinggungan yang ia rasakan. Ia menilai profesionalisme seharusnya tidak dicampuradukkan dengan hal-hal lain yang kurang bijaksana.
“Ya, bukan sedih, saya tersinggung. Saya juga ini… tapi saya pikir ya itu urusan. Lo punya gawean, ya terserah lo. Mau tidak bijaksana, itu urusan lo,” ungkap Ikang Fawzi.
Momen Sederhana Penguat Hati
Untuk menghibur sang putri, Ikang Fawzi memilih cara yang sederhana namun bermakna, yaitu makan bakso bersama. Momen santai inilah yang menjadi ajang percakapan dari hati ke hati mengalir.
“Kemarin sempat makan bakso bareng,” ucapnya singkat.
Kekompakan keluarga Fawzi memang tak perlu diragukan lagi. Musisi berusia 66 tahun itu membuktikan bahwa pelukan seorang ayah dan semangkuk bakso bisa menjadi penguat yang jauh lebih bermakna.
“Keluarga itu harus semakin kompak dan solid. Karena bagaimanapun juga, keluarga yang solid itulah yang bisa membuahkan masyarakat yang sehat ke depannya,” pungkasnya.






