JAKARTA – Joko Suyoto, ayah dari penyanyi cilik Farel Prayoga, akhirnya menghirup udara bebas setelah menjalani proses hukum terkait kasus judi online. Tak lama setelah keluar dari penjara, Joko langsung meluapkan emosinya kepada manajer Farel, Rais, yang menyinggung soal honor Farel disebut mencapai Rp10 miliar. Momen tersebut terekam dalam sebuah video yang ramai beredar di media sosial TikTok.
Dalam video itu, Joko terlihat meminta Rais untuk membuktikan pernyataannya yang menuding dirinya telah menghabiskan uang hasil kerja Farel hingga Rp10 miliar. Meski demikian, Joko tak menampik bahwa penghasilan Farel Prayoga dari dunia hiburan memang sudah mencapai angka miliaran rupiah. Namun menurutnya, nominal tersebut jauh dari klaim Rp10 miliar seperti yang disebutkan sang manajer.
“Kalau miliaran memang ada miliaran, tapi kalau sampai 10, eh, jauh sekali nominalnya,” ujar Joko Suyoto saat ditemui di Jakarta Selatan, Jumat (17/1/2026).
Saat disinggung soal aset yang dimiliki Farel dari hasil kerjanya, Joko mengaku putranya tidak memiliki banyak harta. Ia menyebut Farel tak memiliki mobil dan hanya memiliki rumah di kampung halaman. “Kalau mobil enggak ada. Rumah ada di kampung. Kemarin sempat ada, tapi belum sempat tunas, dijual lagi. Tanah dijual juga, Farel sendiri sama manajernya. Yang lainnya masih tanah-tanah kosong,” kata Joko.
Sementara itu, untuk aset di Jakarta, Joko memastikan Farel belum memiliki rumah dan belum mempunyai apa-apa. “Enggak ada, belum punya apa-apa. Di Jakarta enggak punya. Adalah motornya ada, motor,” ujarnya.
Joko juga mengaku merasa dirugikan dengan sejumlah pernyataan Rais yang disampaikan melalui podcast maupun wawancara media. Ia menyebut selama ini memilih diam demi menghindari sensasi. “Sebetulnya banyak, tentang omongan dia lewat podcast, lewat wawancara. Bahkan saya kan kemarin sempat diam. Setelah Farel itu turun bicara, saya diam. Eh, kok malah si manajernya itu yang nyerocos, bahkan satu hari bisa dua kali, tiga kali,” ungkapnya.
Tak berhenti di situ, Joko turut menyinggung keterlibatan Komnas dalam persoalan tersebut. Ia mempertanyakan alasan pelaporan yang menurutnya justru semakin melebar. “Kok semakin ke mana-mana. Sampai diadatkan ke Komnas. Ke Komnas ngapain? Loh, kan minta perlindungan,” ujarnya.
Saat ditanya soal siapa pihak yang melaporkan, Joko menduga Farel mendapat arahan dari orang dewasa di sekitarnya. “Saya bilang, kalau Farel enggak dituntun ke situ sih enggak mungkin tahu. Mungkin ketutur atau diarahkan, ‘Kamu harus bilang harus begini.’ Namanya anak kecil. Walaupun dia bilang sudah dewasa, tetap anak kecil kalau Farel itu. Baru usia 16,” jelas Joko.
Sebagai orang tua, Joko mengaku telah berusaha memberikan yang terbaik untuk putranya, meski menyadari masih ada kekurangan. “Kalau menurut saya, ya sudahlah. Tapi ada juga sih kekurangan. Saya bilang sebaik orang tua itu enggak sepenuhnya terlalu menuntut anak juga. Kalau menurut saya, ya puas sebenarnya saya itu,” tuturnya.
Joko pun menutup dengan menggambarkan latar belakang kehidupannya sebagai warga kampung. “Namanya orang kampung itu bagaimana? Dalam pendidikan di kampung sehari-hari ya seperti itu. Kalau di kota bisa ke mal, kalau di sana paling bisa ke sawah,” pungkasnya.






